Postingan

Bersisian

Temuilah aku di kereta itu sabtu malam. Kereta Gaya Baru Malam Selatan, kereta nomor 174. Aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 10.15, ku akan sampai di sana sekitar pukul 18.30. Naiklah kereta bersamaku, menuju rumah pamanku di Solo. Kita langsungkan akad disana. Tiketmu sudah kubelikan, tanyakanlah pada petugas bila kau kebingungan. ttd
wisanggeni Itulah bunyi suratmu yang kau kirim dengan pos kilat pak pos. Secepat kilat berkelebat menembus aspal Jakarta, hutan beton bercerobong di Karawang, permadani padi di Haurgeulis, hingga punggungan bukit-bukit di Banyumas. Kuterima pagi ini, hari ini jum’at. Bermakna jelas, besok lah hari itu. ***
Dialah masku, Wisanggeni dari Mlojo. Nama nan asing di telingaku. Aku bertemu dia di pelataran Stasiun Kemayoran. Tempat pertama aku jejakkan hikayat hidupku di tanah ibu dari kota-kota Nusantara. Kenapa aku bisa bertemu dia?. Oh, aku ingat kalau dia orang yang pura-pura tidur pula sambil memejamkan mata di KRL laknat itu, bersenjata masker da…
SAJAK SERGAH Oh kekasih
Rinduku padamu menderu
Menembus dusan cakrawala
Nun jauh disana
Dibalik horizon segara samsara

Ah kekasih
Ku bersakit rakit disini
Bagaimana gerangan dikau disana?
Ingatlah pada rembulan dikala gulita
Senyap bagai doaku

Duh kekasih
Ketika mata tak lagi beradu
Hati masih sayup bernyanyi
Bersiul Berdendang Bergumam
Tak peduli kau tak disini

Engkau lah langit
Akulah bumi
Langit menyapa bumi dengan petir
Langit memeluk bumi dengan hujan
Bumi menelan itu semua

Apakah aku bagai Adam bagimu?
Bukan lagi tulang rusukku menjadimu
Sekujur hatiku nyatanya untukmu
kau bawa pergi
Mengembuskan kekosongan

Semua hakikatnya tunggal
Bumi dan langit
Adam dan hawa
Khaliq dan makhluk
Aku dan engkau(?)

Kaleng-Kaleng Berlubangang

Seperti gelagatnya yang biasa, Ustadz Muharrom masih melayangkan pandangan kasar nan tajamnya padaku. Aku memang sudah 5 hari bolos dan telah berlarut-larut jadi buronan Ustadz Muharrom. Tak pelak alasan jarang muraja’ah-lah yang menjadikan aku sebagai target utama serangannya kali ini. Padahal aku sudah berbaik niat menerjang hujaman air langit yang menikam bumi sore ini. Sial sedang menimpa juga. Aku berada di belakang Barok dan Arif. Mereka sudahdikenal atas muraja’ah yang lama sekali durasinya. Sama-sama tidak lancar. Kalau aku sih tak pernah mikir panjang, lah aku ini cuma disuruh, lebih pasnya dipaksa Ayahku ikut program tahfidz disini. Santai saja lah. Lah cuma buat mengugurkan kewajiban. Aku masih berkutat di juz dua. Entah karena kebanyakan maksiat atau apalah, aku ini gampang menghafal, dan lebih gampang lagi lupanya, klop dah. Sial lagi, ngantuk mulai terantuk-antuk di pelupuk mata. Barok malah masih muter di ayat yang itu-itu aja, tiada harapan. Tak kuat. Aku pun terpulas d…

Temaram

Gambar
Langit sore bergelayut makin menunjukkan tajinya. Seruput sengau ufuk merah-jingga di pelipis horizon barat ditindihnya dengan gelap yang lamat. Pantat masih menempel di bangku taman kota. Diredupi cahaya lampu yang Cuma beberapa watt, ada beberapa lepidoptera malam yang jilir mudik. Mulai mencari penghidupan. Masih belum terlihat rodentia satu pun, hewan pengerat mahasakti itu masih belum nampak. Sepertinya masih asik di kolong got yang diatasnya berjejer penjual bunga.
Tempat ini lah dulu aku bertemu dia. Dia yang memalingkan tatapan muram durjaku dari ketololan hidup. Ya, kuingat waktu itu juga sore hari. Hanya saja hari itu kita bertemu. Hari ini tidak. Kugenggam keras ikatan bunga yang kubeli dari salah satu penjual bunga yang berjajar diatas got itu. Hmm, mungkin mereka mau mengurangi dampak busuknya air got itu, ah entahlah.
** “Hey, kamu ngeliatin aku ya dari tadi?”. Dia tanpa ba-bi-bu menohok ulu hatiku. “Hah, ahh, enggggaaak.....”. Dan kenapa saya menjawab seperti anak SD yang…

Masih Kah?

Selalu
Kupandangmu dengan senyummu
Senyum menyungging di rautku

Selalu
Kaupandang diriku
Garis bahagia itu lenyap darimu

Kubilang asal kau bahagia
Hati kecilku pun gembira

Tapi itu hanya tabir
Atas keegoisanku

Akhirnya hanya aku
aku sendiri yang bahagia

Yang tertinggal hanya angan
Masih melayang di pelupuk mata

Apa kau terus tega merampas satu-satunya hal yang kupunya?

Hak Asasi

Orang seringkali bersembunyi di balik tungkai Hak Asasi untuk melakukan hal seenak udelnya.

Menurut A. Mustofa Bisri, Indonesia sedang dimabuk Hak Asasi. Seperti kalau diibaratkan, burung yang dari sangkar,kemudian dilepaskan ke ruangan. Burungnya bakal terbang gak terarah nabrak-nabrak dinding. Menunggu hingga si burung ini stabil yang entah kapan.

Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam Markesot Bertutur (1993), dengan ciamik menggambarkan begini, Hak Asasi itu letaknya seperti burung (lagi-lagi burung 😁) yang dibebaskan dan ia tau diperbolehkan Tuhan untuk terbang setinggi ia mau. Tapi, ada entitas lain berupa Matahari, burung-burung itu akan terpanggang bila menuruti 'hak asasi' mereka untuk terbang tinggi. Batas-batas itu lah yang kita sebut Agama, agar Hak Asasi tidak malah meracuni kita.

Akhir kalam. Silahkan melakukan eksploitasi hak asasi kalian. Tapi ingat, seperti Zakat bahwa ada hak orang lain di dalam hak kita.


Tabik,
RKR
Masyarakat Maiyah 'Virtual'